Landasan Pengembangan KBK

Landasan-landasan kurikulum akan menyediakan informasi yang sangat berguna dalam pembuatan keputusan tentang kurikulum yang akan disusun. Hal ini menekankan perlunya menetapkan landasan sebelum memulai kegiatan pengembangan kurikulum. Begitu juga dalam pengembangan Kurikulum KBK. KBK mempunyai beberapa landasan yang menjadi aspek dasar pengembangannya.

 

landasan-kurikulum-kbk Menurut Tyler, landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial, budaya dan psikologis. Pendapat tersebut serupa dengan yang dikemukakan Murray Print bahwa landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial budaya, dan psikologi, Perkembangan ilmu dan teknologi, perkembangan terakhir beliau menambahkan atau melengkapi landasan tersebut dengan landasan manajemen.[1]

Penyusunan model desain kurikulum berdasarkan kompetensi akan mengacu kepada landasan.[2]

1. Landasan Pengembangan KBK Secara Filosofis

Filsafat merupakan suatu sistem yang dapat menentukan arah hidup serta mengambarkan nilai-nilai apa yang paling dihargai dalam hidup seseorang. Proses pentingnya mendidik anak agar menjadi manusia yang “baik” pada hakekatnya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut negara, orang tua, masyarakat bahkan dunia. Perbedaan filsafat dengan sendirinya akan menimbulkan perbedaan dalam tujuan pendidikan, bahkan pelajaran yang disajikan, dan mungkin juga cara mengajar dan penilaiannya.

Dalam undang-undang tentang dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah, Bab III, pasal 4 tercantum: “Pendidikan dan pengajaran berdasarkan asas-asas yang termaktub dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan Bangsa Indonesia”.[3]

Dengan demikian landasan filosofis pancasila yang dianut oleh Negara kita dengan prinsip demokratis, mengandung makna bahwa peserta didik diberi kebebasan untuk berkembang dan mampu berfikir intelegen dikehidupan masyarakat, melakukan aktivitas yang dapat memberikan manfaat terhadap hasil akhir dan menekankan nilai-nilai manusiawi dan kultural dalam pendidikan.[4]

2. Landasan Pengembangan KBK Secara Psikologis

Para ahli pengembangan kurikulum selalu menjadikan anak sebagai salah satu pokok pemikiran, agar anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, dapat mengubah sikapnya, dapat menerima norma-norma dan dapat menguasai sejumlah keterampilan. Persoalan yang penting ialah bagaimana anak itu belajar, dalam keadaan yang bagaimana pelajaran itu memberi hasil yang sebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan cara yang efektif terhadap suatu proses yang pelik dan komplek tersebut, maka timbullah berbagai teori belajar.

Teori belajar dijadikan dasar bagi proses belajar mengajar. Dengan demikian ada hubungan yang erat antara kurikulum dengan psikologi belajar dan psikologi anak. Karena hubungan yang sangat erat itu, maka psikologi menjadi salah satu dasar/landasan pengembangan kurikulum.

Dalam hal ini, aliran psikologi behaviorisme dan humanistik yang mengandung makna pembelajaran menekankan pada pengembangan dan penguasaan terhadap kompetensi. Serta menekankan sebagai salah satu landasan.[5]

3. Landasan Pengembangan KBK Secara Sosial Budaya.

Landasan ini berkenaan dengan keadaan masyarakat, perkembangan dan perubahannya, berupa pengetahuan dan lain-lain. Seperti yang kita ketahui anak tidak hidup sendiri, ia selalu hidup dalam suatu masyarakat. Dimana masyarakat tersebut berlainan corak nilai-nilai yang dianutnya. Tiap anak akan berbeda latar belakang kebudayaannya. Perbedaan ini harus dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum. Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat heterogen di tiap daerah dan masyarakatnya. Oleh sebab itu, masyarakat merupakan suatu faktor yang begitu penting dalam penggembangan kurikulum sehingga aspek sosiologis dijadikan salah satu asas. Dalam hal ini pun kita harus menjaga, agar asas ini jangan terlampau mendominasi sehingga timbul kurikulum yang berpusat pada masyarakat atau “ society centered curriculum “. Di Indonesia belum tertuju kearah itu, tetapi perhatian terhadap perkembangan kebudayaan yang ada di masyarakat sudah diwujudkan dalam bentuk kurikulum muatan lokal di tiap daerah.

Dengan dijadikannya sosiologis sebagai landasan pengembangan kurikulum, maka peserta didik nantinya diharapkan mampu bekerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat.[6]

4. Landasan Pengembangan KBK Dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Landasan ini berkenaan dengan perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. Salah satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang. Masyarakat yang berkembang karena dipengaruhi perkembangan ilmu dan tekhnologi, yang memiliki pengaruh yang cukup kuat pada pengembangan kurikulum, terutama teknologi industri, transportasi, komunikasi, telekomunikasi dan elektronik yang menyebabkan masyarakat berkembang sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi dan global. Perubahan ini akan mempengaruhi perkembangan setiap individu warga masyarakat, mempengaruhi pengetahuan, kebiasaan bahkan pola-pola hidup mereka.

Tuntutan semakin tinggi terhadap perubahan pada sistem dan isi kurikulum yang berorientasi ke masa sekarang dan yang akan datang dan menekankan pada penguasaan terhadap kompetensi-kompetensi yang di butuhkan.

Karakteristik kurikulum teknologi menekan isi berupa kompetensi; Kompetensi dirinci menjadi sasaran belajar; Desain pengajaran disusun secara sistematik ( sistem intruksional ); Penyusunan kurikulum dan perangkatnya oleh para ahli ; dan terkhir bahan ajaran disusun dalam media cetak dan elektronik, belajar individual menggunakan CAI, IPI, Modul dan pengajaran berprogama.

Dengan IPTEK sebagai landasan, peserta didik diharapkan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian sesuai dengan sistem nilai, kemanusiawian dan budaya bangsa.[

5. Landasan Pengembangan KBK Secara Organisatoris

Landasan ini berkenaan dengan bentuk organisasi bahan pelajaran yang disajikan. Bagaimana bahan pelajaran akan disajikan. Apakah dalam bentuk bidang studi yang terpisah-pisah, ataukah di usahakan adanya hubungan antara pelajaran yang diberikan, misalnya dalam bentuk broad field atau bidang studi seperti yang dilaksanakan di Indonesia pada saat ini. Contoh IPA, IPS, Bahasa dan lain-lain. Berdasarkan ilmu jiwa Gestalt lebih mengutamakan keseluruhan. Karena kurikulum itu bermakna dan lebih relevan dengan kebutuhan anak dan masyarakat. Aliran psikologi ini lebih cenderung memilih kurikulum terpadu atau integrated curriculum.

Mengacu kepada landasan pengembangan kurikulum di atas, maka tujuan kegiatan siswa akan menekankan pada pengembangan sikap dan perilaku agar berguna dalam suatu kehidupan masyarakat yang demokratis.